Skip to main content

EGP dengan rasa maskanku.

Semenjak aku pulang dari Saudi, aku memilih tinggal di tempatku yang dulu. Lokasinya sama tapi sekarng dilantai paling atas. Kalo di sini disebut sutuh. Sementara ini di dalamnya ada dua penghuni. Yang satu dari Jambi sedangkan yang satu lagi dari Medan. Rumahnya cukup luas, terdiri tiga kamar yang cukup luas juga, satu kamar mandi dan satu tempat masak. Semua lantainya telah dilapisi dengan karpet warna-warni.

Sengaja aku memang langsung menuju rumah itu karena menurutku itu yang paling tepat. Aku sudah nggak punya hak untuk tinggal lagi di rumahku yang dulu. Karena tempat itu adalah sekretariat Persatuan Pelajar Indonesia, yang mana dulu aku sempat tinggal sementara setlah kepengurusan usai. Sementara aku kini sudah lengser dari kepengurusan. Jadi ya lebih baik cari tempat lain yang lebih netral.

Sudah sekitar seminggu aku tiba dari Tanah suci. Namun belum juga membiasakan diri beraktifitas kayak biasanya. Seringkali masih terkena virus aras-arasen. Seperti halnya untuk masak, selama seminggu ini aku lum pernah sama sekali. Padahla dulunya aku rajin. Toh itu juga untuk urusan perut kita sendiri. Aku lebih memilih menahan laper ketimabang harus bersibuk-sibuk di dapur sendirian tanpa ada yang bantuin. Akhirnya untuk beberpa hari itu tak jarang cuma makan sekali dalam sehari.

Sebenarnya yang menjadi masalah bukan hanya karena aku malas. Tapi lebih ke rasa kurang PD saat aku mau memulai masak. Karena tempat yang aku tinggali itu adalah pemilik rumah makan indonesia yang ada di tempat kami. Jadi rasanya was-was kalo ternyata masakanku kurang enak. Tiap hari ingin memberanikan diri tapi masih saja nggak PD. Temenku yang satunya slalu ngasih support " masak aja meski gak enak" kira-kira begitu cletuk temenku saat kita membahas masak.

Akhirnya kemaren momennya sangat tepat. Hari senin dan kebetulan aku puasa, terus sampai menjelang maghrib masih juga belum ada yang masak. Aku segera ganti pakaian dan langsung menuju dapur. Dengan hati-hatinya aku memulai masak. Kumulai dari memasak nasi, terus potong-potong bumbu dan sampai menyiapkan penggorengan yang akan dipake untuk mengoreng ikan laut. Satu demi satu pun selesei. Sesekali sambil menunggu masak aku membersikan westafel dan mencuci bebrapa piring dan gelas yang masih kotor di dalamnya. Nasi pun telah masak. Aku sisihkan di tempat tersendiri. Sementara sambil menggoreng ikan, aku menumis bumbu ke wajan yang telah kusiapkan. Sore itu aku masak "Ikan laut sambal pedas manis"(penamaanku sendiri lo) he he. Singkat cerita masakan hampir siap. Sambil menunggu masaknya, aku selingi dengan menggoreng krupuk. Mantep, krupuk udang oleh-oleh dari Saudi kemaren.

Alhamdulillah semua maskan telah siap sedia. Sementara Adzan Maghrib juga telah berkumandang. Saatnya menyantap hidangangan apa adanya ala maskanku yang gak jelas. Aku was-was dengan hasil masakanku itu. Jangan-jangan nggak sesuai dengan selera lidah teman-temanku. Aku tak peduli. Yang penting aku masak. Aku panggil kedua temanku untuk kuajak makan bareng-bareng. Keduanya masih asyik bergelut dengan diktat kuliah masing-masing. Karena memang saat ini adalah musim ujian. Tiada waktu tampa belajar kalo mau gak "Rosib". Kedua temenku langsung menghampiri masakan yang telah kusiapkan di meja tengah. Nasi, sayur plus krupuk. Buatku dah lebih dari cukup untuk kelas kreatifitasku. he he he

Aku memulai makan, semntara kedua temenku mengikuti. Dalam batinku "alhamdulillah ternyata mereka juga ikut makan". Biar saja apa yg dirasakan dg hasil karyaku itu. Entah enak ato enggak. Aku nggak peduli. Yang penting kan aku masak. Ikut makan saja menurutku merupakah sebuah penghargaan atas jerih payahku sore itu. he he he. Besok-besok lebih kreatif lagi yo....! Kamu bisa.

Comments

Popular posts from this blog

Percobaan

Ah namanya manusia memang nggak ada puasnya. Termasuk saat ngintip blog tetangga kok simple, enak diliat, produktif tulisannya terus domainnya juga mudah diingat de el el. Berbeda dengan punyaku, udah layoutnya adopsi dari free blogger template, juga alamat domainnya yang susah diingat. Akhirnya tiap kali ngintip tetangga sebelah pengen niru aj tapi sayang masih aja gak bisa. Tapi nggak apa-apalah, step by step bro! ini aku nyoba bikin domain baru. moga bisa bertahan lama n bisa aktif terus....

Road to Masjidil Haram.

"Pergi ke Masjidil Haram adalah sebuah panggilan Allah". Ungkapan ini bukan sekedar isapan jempol saja. Tapi memang itu sebuah fakta yang kita tidak bisa pungkiri. Bagaimana tidak, meskipun orang yang hartanya bertumpuk-tumpuk, orang Itu belum tentu krentek untuk bisa meksanakan rukun islam yg terakhir itu. Ada juga yang hartnya dah terkumpul dan berazam untuk melaksanakannya juga ada. Namun ada saja halangan yang ditemui di depannya. Entah kondisi fisik, ataupun yang lainnya yang kurang siap. Dan masih banyak lagi kendala-kendala lain yg menyebabkan kebrangkatan tertunda. Di luar sana Justru sebaliknya. Banyak orang yang kita pikir secara akal sehat mereka tidak mampu untuk mengerjakan rukun terakhir dalam islam itu. Tapi buktinya justru sebaliknya, mereka bisa saja berangkat bahkan tanpa duit sepeserpun di tangan mereka. Inilah yang disebut panggilan untuk jadi tamu Allah. Semoga kita tergolong salah satu diantar mereka yang dapet penggilan. Nah sekarng aku kpngen cerita so...